Postingan

Refleksi Diri

Oleh: Zahra Arifia Esok aku akan jadi apa ya? Saat usiaku tidak lagi disebut remaja. Saat usiaku sudah beranjak dua puluh lima. Saat aku sudah mendapatkan gelar sarjana. Saat tuntutan dunia semakin banyak dan mau tak mau harus menerima. Saat satu persatu dari temanku mulai sibuk dengan masa depannya. Bagaimana jika sudah tiba waktunya aku harus berganti menghidupi keluargaku? Apa aku bisa menjadi orang dewasa yang tak mudah marah? Apa aku bisa mengeluh sendirian? Rindu sekali rasanya menjadi putri kecil dari orang tuaku yang makan tinggal makan, tidur tanpa memikirkan banyak hal, dan selalu berjalan di dalam zona nyaman. Lalu, teman-temanku, pada akhirnya nanti semua akan membangun kehidupannya sendiri-sendiri. Ada yang memilih tinggal di kota dengan segala hiruk pikuknya, ada pula yang tetap memilih tinggal di desa   dengan segala ketenangannya. Ada yang memilih kerja dari pagi buta hingga malam tiba, ada pula yang memilih kerja tanpa tuntutan waktu. Beruntungnya, teknologi ki...

Aku Punya Sisi Kedua

Cerpen Episode 1 #Sepi Aku Punya Sisi Kedua Oleh: Zahra Arifia          Aku ini sering sekali tersesat ketika mau menuju ke suatu tempat. Untung saja di bumi ini masih ada orang-orang baik yang mau menjawab pertanyaanku ketika aku asing dengan bangunan di suatu tempat. Aku tak tau mengapa aku begitu pelupa untuk urusan jalan. Padahal, aku selalu memperoleh peringkat 5 besar saat duduk di bangku sekolah. Tak hanya itu, aku juga menang lomba hafalan juz 30 tingkat desa. Kemudian aku juga pernah juara satu lomba pecah air ketika memperingati hari kemerdekaan di kampungku. Menutup mata saja aku tau dimana letak balon berisikan air yang harus ku pecahkan. Tapi, ketika aku mau menuju ke suatu tempat dengan mata yang tidak tertutup, pun aku sudah pernah melewatinya, mengapa aku masih saja lupa? Atau karena hiruk pikuk kota yang membuat aku terlena terbawa hingga ke tujuan mereka. Atau karena aku memang pelupa, entahlah haha.        ...

Jika Puisi Ini Sampai Padamu

Jika puisi ini sampai padamu, terimakasih karena telah menjadi inspirasi. Aku tak kuasa sebab luka masih menganga. Kali ini, sungguh berat sekali jemariku menyusun kata. Oh iya, puluhan puisi tentangmu takkan pernah ku buang, biarlah menjadi saksi jika kita pernah berusaha mempertahankan kisah. Kini kupersembahkan puisi tentangmu untuk yang terakhir kalinya. Semoga duka kita, atau barangkali hanya dukaku, semoga saja cepat berlalu. Terimakasih sekali lagiđź–¤ Untukmu Oleh: Zahra Arifia Mungkin kita ini tak sadar, Ada jalanan berbatu, pun ada jalanan berlumpur Semua sama sama tak sempurna, kasih Ketika kau bisa berlari sedang aku hanya bisa merangkak, apa boleh buat? Pun ketika aku berjalan sambil bercerita, sedang kau memilih diam saja, apa boleh buat? Tujuan kita mungkin sama, untuk memetik bunga itu Tapi dalam menuju kita tak bisa selaras dalam mencapai suasana, itu salah siapa? Sudahi kasih, memaksa hanya membuat kita semakin sulit berjalan Kau tak bisa jadi aku, pun ak...

Belajar

Belajar Oleh: Zahra Arifia Belajar bukan hanya tentang matematika, ekonomi, geografi, atau sejenisnya Hidup ini tidak monoton kawan Karena bagiku belajar adalah keingintahuan Belajar adalah menyatu dengan pikiran Belajar adalah intim dengan pertanyaan Maka jika puisi ini tercipta, Ada bosan yang sedang kuutarakan Puisi ini ditulis 4 Maret 2019 di Pekalongan

Detak dan Degub

Detak dan Degub Oleh: Zahra Arifia Ada suara dari celah yang menata Berantakan pertanda tak karuan Apa ini? Pikiranku menanti sebuah jawaban Kata Suara yang tak ku kenal, Ada simpati yang sedang kualamatkan Hingga tak kusadari, Malam sudah membujur pagi, Detak dan degub seperdetik saja kembali Puisi ini di tulis di Pekalongan, 3 Maret 2019

Dia II

Dia II Oleh: Zahra Arifia Dia yang lagi-lagi namanya kusebut dalam tanya Setengah hatiku menjawab jangan Namun bagian yang lain menjawab tuk lanjutkan Aku bingung, karena dia datang tanpa kepastian Bagai sesuatu yang sedang menyepi lalu kudapati dengan senang hati Meski aku tak tau bagaimana nantinya Dia Aku harap ia cepat memberiku jawabanya Puisi ini ditulis 15 Agustus 2018 di Pekalongan

Dia I

Dia I Oleh: Zahra Arifia Dia Si pendiam Dia Si jutek Dia Si pemberi kejutan Berbagai cara aku pergi Berbagai cara aku abaikan Kamu hadir menjadi dia Dia yang buatku jatuh cinta Puisi ini ditulis 6 Agustus 2018 di Pekalongan