Postingan

Rasanya Jancuk

Pukul dua siang aku pergi ke toko buku. Aku sedang melihat-lihat buku dan tidak sengaja menginjak kaki seorang lelaki di sampingku. Payah, saking fokusnya mengabsen judul buku, aku tidak melihat jika ada seseorang di situ. Secara spontan aku langsung mengatakan maaf pada lelaki itu. "Iya nggakpapa mba. Nggakpapa." Sembari melihat ke arahku untuk menyakinkanku jika ia memang tidak apa-apa. Aku pun meninggalkan dia dengan langkah yang kikuk. Menjauh sebentar untuk mengatur napasku yang tak beraturan.  Setelah semuanya tenang, aku pun melanjutkan pencarianku, mengabsen judul buku apa yang kira-kira cocok untuk ku baca saat ini. Bedanya aku lebih berhati-hati melihat sekitar sebab tak ingin kejadian memalukan itu terulang kembali. Sudah sekitar setengah jam aku mengabsen buku-buku, akhirnya aku menemukan satu buku yang ingin aku beli. Saat berada di meja kasir, aku mengantre untuk membayar buku yang saat ini sudah ada di genggaman tanganku. "Mba boleh di tambah kartu ucapan...

Pulanglah, Nak

#Pentigraf Pulanglah, Nak Oleh: Zahra Arifia Pagi tadi temanku mengirim kabar, katanya ia mendapatkan pekerjaan di Ibu Kota. Tak ada alasan untuknya menolak sebab gaji yang ditawarkan lumayan besar. Kemudian kemarin temanku yang lainya mengirimkan kabar, buku keduanya telah siap cetak. Ia berharap agar aku bisa membaca bukunya, ia juga bilang aku orang pertama yang dikabari perihal ini. Entahlah perkataan itu benar atau tidak, atau hanyalah bagian dari marketing nya untuk memikat hatiku. Entahlah. Sepanjang percakapan dengan mereka, hatiku perih. Aku bahagia sekaligus iri mendengar kabar itu. Aku ingin jadi seperti mereka. "Nak, Bapak di kampung sakit. Tak bisakah kamu pulang barang sebentar? Kasian, ia membutuhkanmu." Ibuk menelepon dengan nada sendu. Bagaimana bisa aku tak tersentuh, sebab rinduku sudah hampir memenuhi seluruh tubuhku. Aku ingin pulang buk, batinku. Tapi apa yang bisa aku persembahkan? Pekerjaanku disini tak pasti, lebih sering menatap kosong langit-langit ...

Bukan Sedang Menulis, Tapi Sedang Mencintai Diri Sendiri

Pernah nggak si kalian stuck di satu tempat? Kalian nggak tau apa yang benar-benar sedang kalian rasakan. Dibilang sedih, tapi apa yang membuat sedih? Dibilang bahagia, tapi tidak sedang merasakan perasaan yang berbunga-bunga.   Sial sekali! Aku pikir aku telah melewati masa remaja labil ku. Tapi hey, bukankah ini lebih labil? Waktu itu aku sangat ingin menangis. Begitu menangis, aku ingin bahagia. Begitu seterusnya. Kemudian aku ingat, seseorang pernah bilang di suatu warung kopi, kunci hidup manusia itu ada 3: Buku, Pesta, dan Cinta. Kalimat itu membuatku terus mencari, sebetulnya apa yang tidak ada di diriku? Beberapa bulan terakhir perasaanku kosong, yang berarti nol. Aku tak tau harus diisi dengan perasaan yang seperti apa. Buku? Yaa masih terbaca walau sedikit-sedikit. Kemudian pesta? Pesta disini berarti sesuatu yang membuat diri kita terbebas dan lepas. Yaa bagiku sudah. Sebab aku pun banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama teman-temanku, membeli apapun yang kumau, ...

Refleksi Diri

Oleh: Zahra Arifia Esok aku akan jadi apa ya? Saat usiaku tidak lagi disebut remaja. Saat usiaku sudah beranjak dua puluh lima. Saat aku sudah mendapatkan gelar sarjana. Saat tuntutan dunia semakin banyak dan mau tak mau harus menerima. Saat satu persatu dari temanku mulai sibuk dengan masa depannya. Bagaimana jika sudah tiba waktunya aku harus berganti menghidupi keluargaku? Apa aku bisa menjadi orang dewasa yang tak mudah marah? Apa aku bisa mengeluh sendirian? Rindu sekali rasanya menjadi putri kecil dari orang tuaku yang makan tinggal makan, tidur tanpa memikirkan banyak hal, dan selalu berjalan di dalam zona nyaman. Lalu, teman-temanku, pada akhirnya nanti semua akan membangun kehidupannya sendiri-sendiri. Ada yang memilih tinggal di kota dengan segala hiruk pikuknya, ada pula yang tetap memilih tinggal di desa   dengan segala ketenangannya. Ada yang memilih kerja dari pagi buta hingga malam tiba, ada pula yang memilih kerja tanpa tuntutan waktu. Beruntungnya, teknologi ki...

Aku Punya Sisi Kedua

Cerpen Episode 1 #Sepi Aku Punya Sisi Kedua Oleh: Zahra Arifia          Aku ini sering sekali tersesat ketika mau menuju ke suatu tempat. Untung saja di bumi ini masih ada orang-orang baik yang mau menjawab pertanyaanku ketika aku asing dengan bangunan di suatu tempat. Aku tak tau mengapa aku begitu pelupa untuk urusan jalan. Padahal, aku selalu memperoleh peringkat 5 besar saat duduk di bangku sekolah. Tak hanya itu, aku juga menang lomba hafalan juz 30 tingkat desa. Kemudian aku juga pernah juara satu lomba pecah air ketika memperingati hari kemerdekaan di kampungku. Menutup mata saja aku tau dimana letak balon berisikan air yang harus ku pecahkan. Tapi, ketika aku mau menuju ke suatu tempat dengan mata yang tidak tertutup, pun aku sudah pernah melewatinya, mengapa aku masih saja lupa? Atau karena hiruk pikuk kota yang membuat aku terlena terbawa hingga ke tujuan mereka. Atau karena aku memang pelupa, entahlah haha.        ...

Jika Puisi Ini Sampai Padamu

Jika puisi ini sampai padamu, terimakasih karena telah menjadi inspirasi. Aku tak kuasa sebab luka masih menganga. Kali ini, sungguh berat sekali jemariku menyusun kata. Oh iya, puluhan puisi tentangmu takkan pernah ku buang, biarlah menjadi saksi jika kita pernah berusaha mempertahankan kisah. Kini kupersembahkan puisi tentangmu untuk yang terakhir kalinya. Semoga duka kita, atau barangkali hanya dukaku, semoga saja cepat berlalu. Terimakasih sekali lagiđź–¤ Untukmu Oleh: Zahra Arifia Mungkin kita ini tak sadar, Ada jalanan berbatu, pun ada jalanan berlumpur Semua sama sama tak sempurna, kasih Ketika kau bisa berlari sedang aku hanya bisa merangkak, apa boleh buat? Pun ketika aku berjalan sambil bercerita, sedang kau memilih diam saja, apa boleh buat? Tujuan kita mungkin sama, untuk memetik bunga itu Tapi dalam menuju kita tak bisa selaras dalam mencapai suasana, itu salah siapa? Sudahi kasih, memaksa hanya membuat kita semakin sulit berjalan Kau tak bisa jadi aku, pun ak...

Belajar

Belajar Oleh: Zahra Arifia Belajar bukan hanya tentang matematika, ekonomi, geografi, atau sejenisnya Hidup ini tidak monoton kawan Karena bagiku belajar adalah keingintahuan Belajar adalah menyatu dengan pikiran Belajar adalah intim dengan pertanyaan Maka jika puisi ini tercipta, Ada bosan yang sedang kuutarakan Puisi ini ditulis 4 Maret 2019 di Pekalongan